Definisi Work Life Balance

Pernahkan anda mendengar istilah work life balance? Bagi semua golongan pekerja hal ini merupakan impian karena semakin banyak yang terjebak dalam stress akibat tekanan pekerjaan yang berat.

Akibatnya bisa cukup fatal, mulai dari pupusnya keharmonisan rumah tangga, depresi, kehilangan motivasi, sampai gangguan kesehatan.

Simak ulasan berikut untuk menambah wawasan kamu.

Definisi Work Life Balance

“work-life balance” Istilah tersebut berkaitan dengan kewajiban di kantor sebagai pekerja dengan kehidupan seseorang sebagai pribadi. Keduanya harus mencapai keseimbangan untuk mempertahankan kesehatan mental.

Sebagai pekerja kamu mungkin mulai sering tertekan karena tenggat waktu, klien yang sulit, target perusahaan, dan hal-hal terkait.

Sebagai antisipasi agar kondisi tersebut tidak membuat kamu semakin merasa “terperangkap”, kamu perlu mengetahui tentang konsep keseimbangan ini.

Ada beberapa pengertian work-life balance menurut para ahli. Namun secara sederhana artinya adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Idealnya, seorang pekerja harus dapat mengatur waktu secara seimbang antara pekerjaan dan kehidupan di luar profesinya.

Ini misalnya sebagai orang tua dari putra-putrinya, sebagai pasangan, sebagai anak dari orang tua kamu, dan lain-lain. Dengan keseimbangan yang baik, yang bersangkutan justru dapat meningkatkan kinerja serta produktivitasnya.

Lingkungan kerja serta lingkaran pergaulan di sekitarnya yang mendukung juga mempengaruhi seseorang untuk menampilkan performa dan potensi terbaik pada dirinya.

Sebaliknya, tanpa work balance bukan hanya pekerjaan yang berantakan, tetapi kualitas kehidupan karyawan yang bersangkutan juga akan merosot. Penyebabnya adalah tuntutan pekerjaan dan kompetisi yang kian meningkat di zaman sekarang.

Tips Mencapai Work Life Balance

Kita memang tidak dapat mengendalikan kondisi atau suasana di kantor. Meski demikian bukan berarti fenomena work life balance itu mustahil karena Parent Pinters dapat mencoba beberapa hal berikut ini.

1. Meminimalkan Kebiasaan Mengeluh

Sesekali memang wajar jika kamu mengeluh, misalnya karena ada anggota tim tidak melakukan tugas sesuai rencana. Meski demikian jangan menjadikan hal ini sebagai kebiasaan karena tanpa disadari kamu tengah menyebarkan energy negative kepada orang lain.

Mulai sekarang Parent Pinters sebaiknya tidak menganggap aktivitas bekerja sebagai beban. Lebih banyak bertindak akan lebih bermanfaat dibandingkan lebih banyak mengeluh.

Jangan lupa mengerjakan hobby dan sesuatu yang disukai untuk menghilangkan rasa penat.

2. Belajar Hal-hal yang Baru atau Mencoba Aktivitas Baru

Bentuk penerapan work life balance salah satunya adalah self-love yang sebenarnya dapat dilakukan dengan cara sederhana. Caranya, cobalah membangkitkan antusiasme dengan belajar bidang-bidang baru di luar rutinitas yang semakin terasa membosankan.

Selain itu Parent Pinters juga dapat bertemu teman lama, mengikuti workshop, atau memulai hobi baru yang sudah lama ingin kamu coba. Olahraga juga sangat disarankan untuk membuat fisik dan psikis kamu sehat dan fresh.

Lagi pula olahraga dapat menstimulasi produksi hormon endorphin yang dapat memunculkan perasaan nyaman dan bahagia.

3. Menghindar Sementara dari Sosial Media

Meraih smartphone dan langsung mengakses akun sosmed tanpa disadari sudah menjadi kebiasaan hampir semua orang. Hal ini sebenarnya tidak masalah karena dapat membantu kamu terus terhubung dengan teman atau saudara yang terpisah jauh.

Tetapi Parent Pinters perlu waspada jika waktu yang kamu habiskan untuk scroll timeline lebih lama dibandingkan waktu produktif.

Akibatnya tugas-tugas harian bisa terbengkalai dan akhirnya kamu harus pulang lebih lambat untuk menuntaskan semuanya.

Waktu bersama pasangan atau keluarga pun jadi semakin sedikit, demikian pula waktu istirahat. Kamu pun jadi kurang tidur lalu keesokan harinya bangun dengan malas dan tidak mood bekerja.

Sangat merugikan, bukan?

4. Jangan Membawa Pekerjaan ke Rumah

Parent Pinters bukanlah pelajar yang perlu mendapat PR untuk dikerjakan di rumah. Lagi pula perusahaan yang menerapkan work life balance tidak akan menuntut para karyawannya untuk membawa tugas kantor ke rumah.

Ini karena mereka sadar produktivitas para pekerja justru berkurang karena terlalu banyak gangguan. Bulatkan tekad untuk tidak menjadikan rumah sebagai kantor kedua.

Jadi mulai sekarang optimalkan waktu bekerja selama 8 jam untuk menyelesaikan semua kewajiban kantor kamu. Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah dengan hati tenang dan menyediakan waktu sepenuhnya bagi keluarga atau pasangan.

5. Buatlah Prioritas

Agar work life balance yang Parent Pinters idamkan dapat direalisasikan, sebelumnya kamu perlu membuat prioritas. Pertama kamu bisa mencatat seluruh tugas, lalu prioritaskan pekerjaan yang harus selesai hari ini.

Upayakan untuk berkonsentrasi pada pekerjaan dan tidak terdistraksi oleh hal-hal lainnya, apalagi yang kurang penting, misalnya notifikasi di media sosial.

Jika tugas kamu sudah selesai, Parent Pinters dapat melakukan aktivitas lain sepulang kerja tanpa gangguan serta beban pikiran terkait pekerjaan.

6. Manajemen Waktu yang Baik

Agar seluruh aktivitas Parent Pinters dapat berjalan lancar tanpa saling mengganggu, kuncinya adalah pengaturan waktu yang baik. Setiap orang mempunyai waktu 24 jam dalam sehari.

Jika kamu menggunakan 1/3-nya untuk bekerja dan 1/3-nya lagi untuk beristirahat, artinya masih ada waktu 8 jam lagi untuk melakukan hal lain. Dalam 8 jam ada banyak hal yang dapat kamu lakukan.

Ini antara lain aktivitas religi, mengerjakan hobi, olahraga, family time dengan pasangan dan buah hati, atau bertemu para sahabat. Dengan menjalankan manajemen waktu dengan baik kamu akan menjadi orang yang multitasking.

Harapannya karir Parent Pinters akan melesat, menjadi orang tua yang baik, menjadi pasangan idaman, sekaligus mempunyai kehidupan sosial yang menyenangkan.

Inilah manfaat work life balance yang seharusnya dapat dirasakan semua pekerja atau karyawan.

Leave a Comment